Bulan terakhir Juli 2014 Bulan berikutnya
S S R K J S M
week 27 1 2 3 4 5 6
week 28 7 8 9 10 11 12 13
week 29 14 15 16 17 18 19 20
week 30 21 22 23 24 25 26 27
week 31 28 29 30 31

Istilah - Istilah Industri

Peraturan Serta Alat Keselamatan di Kapal Penumpang

Perkapalan

Normal 0 false false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

1. PENDAHULUAN

Dalam Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa dilaut atau yang lebih dikenal dengan SOLAS Convention Ferry Ro - Ro dikategorikan sebagai kapal penumpang. Sealian untuk mengangkut penumpang, kapal penumpang memiliki ruang muat khusus untuk mengangkut kendaraan dan juga barang bawaan. Dengan demikian terdapat peraturan keselamatan dan kelaikan kapal yang menjamin tingkat keselamatan pada saat kapal beroperasi.

Sejak awal tahun 2007 Indonesia mengalami beberapa kecelakaan kapal terutama Ferry Ro – Ro. Sebagai orang terpilih yang bergerak di bidang maritim terutama di dunia perkapalan, kita harus mengetahui persyaratan apa saja yang berlaku saat ini untuk meningkatkan kualitas keselamatan khususnya untuk kapal penumpang. Selanjutnya kita akan membahas macam peralatan keselamatan yang ada di kapal berikut dengan peraturan yang mengatur jumlah dan tata letak peralatan keselamatan tersebut.

2. Peraturan Keselamatan Kapal Penumpang

Kendaraan Penolong dan Perahu Penyelamat ( SOLAS Seksi II Peraturan 20 )

Sekoci penolong yang ada dikapal jumlah kapasitas minimal dapat menampung 50% dari jumlah semua orang di atas kapal. Sekoci penolong dapat diganti dengan rakit penolong yang kapasitasnya sama dan harus dilengkapi dengan alat peluncur di sisi – sisi kapal. Perlu diketahui bahwa semua kendaraan penolong dan perahu penyelamat harus mampu diluncurkan semuanya dalam waktu 30 menit sejak sinyal untuk meninggalkan kapal dibunyikan. Untuk mengetahui kualitas dari kendaraan penolong dan perahu penyelamat, kita dapat mengecek tanggal kadaluarsa ( expired ) atau dari inspeksi terakhir yang menjelaskan tentang kondisi dari peralatan keselamatan tersebut.

Sebagai tambahan, untuk kapal penumpang dengan tonase kurang dari 500 GT dimana jumlah penumpang di kapal kurang dari 200 orang kendaraan penolong dan perahu penyelamat harus memenuhi peratunan berikut :

1. Diletakkan pada setiap sisi kapal dan rakit penolong harus mampu menampung jumlah semua orang yang ada di kapal.

2. Setiap rakit penolong dalam kondisi siap dipakai dan dapat diluncurkan pada salah satu sisi kapal, selain itu dengan mudah dipindahkan dari satu sisi ke sisi kapal yang lain.

3. Rakit penolong harus dilengkapi dengan keterangan atau gambar tata cara peluncuran, sehingga mempermudah penumpang atau awak akapl untuk dapat mengoperasikannya.

Di bawah ini adalah gambar kendaraan penolong dan perahu penyelamat yang biasa kita jumpai di kapal penumpang :

Gambar. Sekoci( Life Boat ) dan Dewi – dewi ( Davit )

Gambar. Sekoci Tertutup ( Enclose Life Boat )

Gambar. Inflatable Life Raft Sebelum dan Setelah Terbuka

Peralatan Keselamatan Untuk Masing – Masing Personil ( SOLAS Seksi II Peraturan 21 )

1. Pelampung Penolong / Lifebuoy

Suatu kapal penumpang harus membawa pelampung penolong yang jumlahnya sesuai dengan persyaratan yang tertera dalam tabel berikut :

Panjang Kapal

Jumlah Minimum Pelampung

L < 60 m

8

60 m L < 120 m

12

120 m L < 180 m

18

180 m L < 240 m

24

L ≥ 240 m

30

Tabel. Persyaratan Jumlah Pelampung Pada Kapal Penumpang

Sebagai tambahan, untuk kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 60 m harus membawa minimal 6 pelampung yang dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala sendiri.

Gambar. Lifebuoy dan Lifebuoy Light

2. Baju Penolong ( Life Jacket )

Peraturan keselamatan untuk baju penolong dewasa pada kapal penumpang minimal 105 % dari jumlah seluruh penumpang yang ada di kapal. Sedangkan untuk baju penolong anak – anak minimal 10 % dari jumlah seluruh penumpang yang ada di kapal. Baju penolong harus disimpan ditempat yang terlihat dengan jelas di geladak kapal dan tempat berkumpul. Baju penolong juga dilengkapi dengan lampu dan tata cara pemakaiannya.

Gambar. Baju Penolong ( Life Jacket ) untuk Deawasa dan Anak - anak

Peraturan Keselamatan Untuk Pencegahan Kebakaran ( SOLAS BAB II - 2 )

A. Kotak Pemadam Kebakaran ( Hydrant Box )

Kotak pemadam kebakaran terdiri dari selang pemadam kebakaran dan nozzle. Berikut adalah peraturan yang mengatur peralatan tersebut :

1. Selang Pemadam Kebakaran

Selang kebakaran harus dibuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan harus tetap dalam keadaan siap pakai. Peletakannya ditempat ‑ tempat yang mudah dijangkau dan letaknya dekat dengan tempat hidran atau sambungan layanan air. Untuk kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 orang, pada selang kebakaran itu harus disambungkan dengan hidran setiap saat. Pada kapal dengan berat kotor 1.000 GT atau lebih minimal terdapat 5 buah selang pemadam kebakaran ditambah 1 untuk cadangan.

2. Nosel ( Nozzle )

Ukuran diameter standar untuk nosel antara lain : 12 mm, 16 mm, atau 19 mm. Pada ruang akomodasi dan ruang layanan digunakan nosel ukuran diameter 12 mm. Sedangkan pada ruang mesin dan tempat - tempat di luar, ukuran nosel harus sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh pengeluaran semaksimal mungkin, akan tetapi tidak lebih besar dari 19 mm.

Gambar. Hydrant Box, Hydrant Hose, dan Nozzle

B. Pemadam Kebakaran Jinjing ( Fire Extinguisher )

Kapasitas dari pemadam kebakaran jinjing ( Fire Extinguisher ) yang disyaratkan tidak boleh lebih dari 13,5 liter dan tidak kurang dari 9 liter. Ruang akomodasi, ruang layanan, dan stasiun kontrol juga harus dilengkapi dengan fire extinguisher. Pada kapal dengan berat kotor 1.000 GT atau lebih minimal terdapat 5 buah fire extinguisher.

Terdapat bermacam – macam jenis fire extingusher, antara lain :

1. ABC Powder Fire Extinguisher

2. Foam Fire Extinguisher

3. CO2 Fire Extinguisher

4. Water Fire Extinguisher

Gambar. Fire Extinguisher : ABC Powder, Foam, CO2, , Water

C. Alarm Kebakaran ( Fire Alarm )

Alarm kebakaran diletakkan pada tempat dimana penumpang dan awak kapal dapat mendengar saat alarm kebakaran diaktifkan. Alarm kebakaran dilengkapi dengan penekan manual ( switch on ) untuk mengkatifkan alarm dan dilindungi.

Gambar. Fire Alarm Bell dan Fire Alarm Switch

D. Pendeteksi Kebakaran ( Fire Detector )

Kapal yang memuat penumpang lebih dari 36 orang harus memiliki alat pendeteksi kebakaran yang tetap. Sistem alarm kebakaran harus dipasang dan disusun untuk mendukung pendeteksi asap di ruangan -ruangan publik, pusat kontrol / kemudi dan ruang akomodasi, termasuk koridor, tanggga, dan rute penyelamatan. Alat pendeteksi kebakaran dibagi menjadi 2, yaitu : Detektor Panas ( Heat Detector ), Detektor Asap ( Smoke Detector ), atau Detektor Asap - Panas ( Smoke – Heat Detector ). Di bawah ini adalah tata letak dan jarak peletakan dari pemasangan fire detector :

1. Detektor Panas ( Heat Detector )

Detektor panas harus dipasang pada ruang akomodasi, ruang pelayanan, dan stasiun pengontrol.

2. Detektor Asap ( Smoke Detector )

Detektor asap harus dipasang pada semua tangga, koridor dan jalan penyelamatan dalam ruang akomodasi. Pertimbangan-pertimbangan harus diberikan untuk instalasi dari detektor asap dengan maksud khusus dalam saluran ventilasi. Tabel di bawah ini adalah peraturan peletakan alat pendeteksi kebakaran :

Jenis

Detektor

Luas Lantai Maksimum Setiap Detektor

Jarak

Maksimum Antar Pusat

Jarak Maksimum Dari Sekat

Panas

37 m2

9 m

4,5 m

Asap

74 m2

11 m

5,5 m

Tabel. Persyaratan Peraturan Peletakan Fire Detector

Gambar. Heat Detector, Smoke Detector, Smoke – Heat Detector

E. Sprinkle

Sprinkle adalah alat bantu pemadam kebakaran berupa saluran air yang menyemprot dari langit - langit saat diaktifkan jika terjadi kebakaran. Untuk kapal yang mengangkut penumpang labih dari 36 orang diharuskan terdapat sprinkle.

Gambar. Tipe- tipe Sprinkle

Gambar. Fire Suspension System

F. Kotak Pasir ( Sand Box )

Pada setiap ruang pemadam kebakaran harus ada wadah yang berisi pasir, serbuk gergaji yang dicampur dengan soda, atau material kering yang lain untuk alat bantu pemadam kebakaran.

Gambar. Kotak Pasir ( Sand Box )

G. Denah Keselamatan ( Safety Plan )

Untuk kapal yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang diwajibkan memasang denah keselamatan di tempat umum ( publik ) agar penumpang dan awak kapal dapat mengetahui tempat evakuasi jika terjadi kebakaran atau kecelakanan di kapal.

H. Tata Susunan Peralatan Pemadam Kebakaran

Tata susunan harus sedemikian rupa sehingga dapat menjamin sekurang - kurangnya 2/3 gas yang dibutuhkan ruang tersebut harus masuk selama 10 menit. Dalam ruang muatan harus dipasang sistem pemadam kebakaran. Sistem pemadam kebakaran gas lain atau sistem pemadam kebakaran dengan busa ekspansi tinggi dapat dipasang dengan syarat dapat memberikan perlindungan yang sepadan. Selanjutnya setiap ruang muatan yang didesain hanya untuk kendaraan yang tidak mengangkut muatan dapat dipasang dengan sistem pemadam kebakaran hidrokarbon berhalogen.

Peraturan Keselamatan Untuk Instaliasi Listrik

Berikut ini adalah peraturan dari SOLAS yang mengatur tentang instalasi listrik :

1. Semua kabel yang berada di lauar atau secara langsung terkena cuaca di luar harus dikedapkan.

Gambar. Akses Kabel Yang Tidak Dikedapakan

2. Kabel - kabel dan jaringan listrik harus dipasang dan ditopang dengan cara sedemikian rupa sehingga terhindar dari pengelupasan atau kerusakan lainnya.

Peraturan Keselamatan Untuk Sistem Ventilasi

Saluran ventilasi harus dari bahan yang tidak mudah terbakar. Namun untuk saluran ventilasi pendek pada umumnya tidak lebih dari 0,02 m2 dan panjang tidak melebihi 2 m tidak harus dari bahan yang tidak mudah terbakar. Sistem ventilasi dapat menggunakan alat seperti exhaust van atau blower. Sedangkan pada Kamar Mesin umumnya menggunakan mushroom.

Gambar. Alat Ventilasi di Kapal dan Mushroom Ventilasi untuk Kamar Mesin

Peraturan Keselamatan Untuk Peralatan Navigasi

Pemasangan / instalasi peralatan navigasi harus diperhatikan, misal untuk instalasi radio harus sesuai dengan peraturan sebagai berikut :

1. Ditempatkan pada tempat yang aman, tidak terpengaruh oleh gangguan mekanis, listrik, atau sumber lain yang merusak pemakaian perangkat.

2. Ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah untuk segera di operasikan.

3. Dilengkapi dengan lampu listrik yang disusun secara permanen yang terpisah dari sumber tenaga listrik utama dan cadangan untuk penerangan ruang kontrol radio.

4. Ditandai secara jelas dengan tanda panggilan, identitas stasiun radio kapal dan kode lain sebagai penerapan dalam penggunaan instalasi radio.

Setiap kapal harus mempunyai awak yang mampu dalam penggunaan komunikasi radio keselamatan. Awak tersebut harus memiliki sertifikat dan bertanggung jawab penuh dalam komunikasi radio.

A. Buku Catatan Radio

Buku catatan radio adalah buku yang mencatat semua kejadian, berupa kecelakaan, marabahaya yang berhubungan dengan layanan radio komunikasi. Buku ini penting untuk mengetahui history / sejarah dari peralatan komunikasi radio di kapal.

B. EPIRB ( Emergency Position Indicating Radio Beacon )

EPIRB pada kapal harus memenuhi standard sebagai berikut :

1. Mampu mentransmisikan sinyal darurat pada layanan satelit orbit polar yang dioperasikan pada gelombang 406 MHz atau jika kapal hanya melakukan pelayaran pada kawasan yang dicakup INMARSAT.

2. Dipasang pada posisi yang dapat terjangkau dengan mudah dan selalu siap dilepaskan / diaktifkan secara manual.

3. Mampu mengapung bebas jika kapal tenggelam dan aktif secara otomatis pada saat terapung.

C. Monitoring System

Untuk memantau kondisi ruangan, kapal biasanya menggunakan sistem monitoring dengan camera CCTV ( Close Circuit Television ). Di bawah ini adalah beberapa macam gambar dari CCTV camera :

Gambar. CCTV Camera

Di bawah ini adalah peralatan navigasi yang biasa kita jumpai di kapal penumpang :

Gambar. Radar Gambar. GPS

Gambar. NAVTEX Receiver Digital Gambar. NAVTEX Receiver Fax

Gambar. VHF Radio Gambar. SSB Radio

Gambar. EPIRB Gambar. SART

 

 

Pengelompokan Industri Kedirgantaraan

Perkapalan

Pengelompokan klaster industri kedirgantaraan dapat dibagi kedalam 2 (dua) grup industri yang dapat menjadi mitra industri inti:

1. Satu group yang masuk didalam perusahaanperusahaan yang bisa menghasilkan produk yang dibutuhkan untuk pengembangan prasarana perusahaan, misalkan dalam bidang informasi, computer, catering, percetakan dan sebagainya yang bersifat prasarana.

2. Satu group lagi yang berkaitan dengan produk, khusus group ini dibagi 2 (dua) kelompok yaitu ;
Group yang menghasilkan produk-produk yang lansung dipasang di produk dan yang tidak dipasang diproduk, misalnya Tool, Jig, Fixture, Casting dan Moulding.

Pengelompokkan industri pendukung dalam industri pesawat terbang, menurut Niosi, Jorge and Majlinda Zhegu dapat dibagi ke dalam 4 (empat) tingkatan (Tier), dimana setiap Tier merepresentasikan kompleksitas pengerjaan dimana kriteria Fit, Form and Function menjadi prasyarat utama (lihat ilustrasi gambar 3.3), berikut uraian dari masing-masing Tier :

selengkapnya...

 

Daftar Industri Komponen Kapal Nasional

Perkapalan

Sebagai pembina industri maritim nasional, berikut beberapa informasi tentang daftar industri komponen kapal nasional :

1. PT. PINDAD
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 517 Bandung - Jawa Barat 40284 Tlp. 022-7312073 Fax : 022-7301222
Produk : Crane, Windlass, Winchess, Deck Equipment

2. PT. Inti General Jaya Steel
Jl. İmam Bonjol No. 202 Tuğu, Semarang - Jawa Tengah
Produk : Profile

3. PT. Gunawan Dianjaya Steel 
Jl. Margomulyo No. 29A, Tandes Surabaya - Jawa Timur. Tlp. 031-7490598 Fax : 031-7490581, 7481939
Produk : Ship Plate

4. PT. Hanil Jaya Metal Works
Jl. Brigjend Katamso, Desa Janti, Waru Sidoarjo - Jawa Timur PO Box 335 Tlp. 031-8533500, 8533601
Produk : Profile

5. PT. Djatim Taman Steel
Jl. Raya Taman Sepanjang Sidoarjo - Jawa Timur 61257 Tlp. 031-7881139 Fax: 031-7882987
Produk : Profile

Update terakhir (Monday, 29 July 2013 11:14)

selengkapnya...

 

Jenis dan Fungsi Kapal di Dunia Pelayaran

Perkapalan

Sebagai pembina industri maritim nasional, berikut beberapa informasi yang dapat kami sampaikan tentang jenis dan fungsi kapal di dunia pelayaran :

1. Tanker, adalah kapal yang dirancang untuk mengangkut minyak atau produk turunannya. Jenis utama kapal tanker termasuk tanker minyak, tanker kimia, dan pengangkut LNG. Di antara berbagai jenis kapal tanker, super tanker dirancang untuk mengangkut minyak sekitar TAfrika dan Timur Tengah. Super tanker Knock Nevis adalah jenis kapal tanker terbesar di dunia.

2. Ferry Ro-Ro (roll-on/roll-off) adalah adalah kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan sendiri juga, sehingga disebut sebagai kapal roll on - roll off atau disingkat Ro-Ro. Oleh karena itu, kapal ini dilengkapi dengan pintu rampa yang dihubungkan dengan moveble bridge atau dermaga apung ke dermaga.Kapal RoRo memiliki desain yang landai sehingga memungkinkan muatan secara efisien "keluar-masuk" kapal saat di pelabuhan. Kapal Ro-Ro biasanya memiliki pintu/rampa/ramp door di haluan dan buritan, supaya pelaksanaan bongkar-muat lebih cepat. Kapal Roro selain digunakan untuk angkutan truk juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, sepeda motor serta penumpang jalan kaki.

Update terakhir (Monday, 29 July 2013 11:18)

selengkapnya...

 

Kapal Non-Konvensi

Perkapalan


Peraturan standar kapal non konvensi berbendara Indonesia tertuang dalam Lampiran Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM No. 65 Tahun 2009. Peraturan tersebut berisikan standar kualitas hal-hal yang terkait dengan kapal dan pengawakannya dan sudah ditandatangani juga oleh Dirjen Perhubungan Laut dalam SK UM 008/20/9/DJPL/2012 dan akan diberlakukan pada 1 Januari 2013.

Kapan Non-Konvensi sendiri sudah akrab ditelinga kita, namun apakah kita mengenal apa yang dimaksud dengan kapal non-konvensi??  Berikut kita simak beberapa definisi yang menjelaskan tentang kapal tersebut.

Menurut UU RI No 21 tahun 1992 mengenai definisi kapal, Kapal adalah jenis kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun, serta digerakan oleh tenaga mekanik, menggunakan tenaga angin atau ditunda, Kapal termasuk jenis kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.

Update terakhir (Monday, 29 July 2013 11:17)

selengkapnya...

 

Bangunan / Anjungan Lepas Pantai

Perkapalan

Bangunan / Anjungan lepas pantai (Offshore Platform/Offshore Rig) adalah struktur atau bangunan yang di bangun di lepas pantai untuk mendukung proses eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang maupun mineral alam.

Fungsi utama dari bangunan lepas pantai adalah untuk eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Adapun faktor lingkungan laut yang berpengaruh untuk rancangan struktur bangunan laut terdiri dari kedalaman perairan, angin, gelombang, arus, kondisi dasar laut, penggerusan dan tektonik (gempa bumi).

Attachments:
Download this file (fpso-details.jpg)Detil FPSO

Update terakhir (Monday, 28 January 2013 09:23)

selengkapnya...

 

NTFS file sistem

Telematika

File sistem dengan teknologi baru yang memberikan kelebihan pada kinerja , sekuriti, reliabilitas dan berbagai kelebihan lain yang tidak ada pada FAT maupun FAT 32.

 

FAT 32

Telematika

Pengembangan dari FAT file sistem. Menggunakan cluster yang lebih kecil dan volume yang lebih besar daripada FAT sehingga proses penyimpanan data jauh lebih efisien.

 

FAT (File Allocation Tabele)

Telematika

File sistem yang digunakan oleh MS Dos dan windows untuk organisasi file. FAT juga merupakan struktur data yang dibuat ketika sebuah media penyimpanan di format. FAT menyimpan semua informasi file yang disimpan.

 

File systems

Telematika

Struktur global sebuah sistem operasi . contoh file sistem pada windows yakni NTFS, FAT dan FAT32.

 
More Articles...
Pengumuman

Bagi perusahaan yang profilnya ingin di tampilkan dalam website IUBTT, silahkan mengirimkan profilenya melalui info-iubtt@kemenperin.go.id